Thursday, January 21, 2010

24 hours Mother ???

 "OHHHH. Ibu Rumah Tangga ?
Pertanyaan ini kerap disampaikan dalam nada sinis. Lucunya, justru keluar dari mulut perempuan dan ditujukan kepada sesama perempuan yang rela " Menyerahkan diri" sebagai FTM (Full Time Mother). Pertanyaan  yang seolah merampingkan peran seorang ibu yang Full Time ada di rumah.

Tak banyak yang menyadari, peran FTM tak kalah berat dengan working mom bahkan half-time working mom. Bila seorang working mom menghabiskan sekitar 8 hingga 10 jam waktunya untuk bekerja di luar rumah maka seorang FTM menghabiskan seluruh waktunya untuk mengurus anak dan berbagai urusan rumah tangga.

Bahkan tak jarang seorang FTM mengemban tuntutan yang lebih tinggi dari suami, orang tua, mertua, hingga lingkungan sekitarnya untuk dapat mengasuh anak, mengurus rumah dan suami, melebihi seorang working mom. Perlu dicatat, tanpa gaji dan uang lembur. Karena  FTM tak pernah dianggap sebagai pekerjaan melainkan hanya sebuah kegiatan yang sudah sepantasnya dilakukan oleh seorang istri atau ibu. Bahkan tak jarang mereka diberi istilah magabu suami alias makan gaji buta dari suami.

Sejumlah klien saya, yang terpaksa berkarir sebagai FTM, cenderung mengeluh tentang beratnya tuntutan yang dibebankan di atas pundak mereka khususnya yang berkaitan dengan pengasuhan dan tugas-tugas domestik. TAk jarang mereka harus menghadapi kenyataan sebagai satu-satunya kambing hitam saat anak-anak bermasalah di sekolah termasuk saat urusan rumah tangga tak dapat dihandle dengan baik. Termasuk menghadapi kenyataan saat suami enggan diminta turut berbagi peran di rumah. Dengan alasan FTM sudah cukup  mendapat jatah "enak-enakan" di rumah. Bebas macet, mempunyai kesempatantidur siang dan bersantai sepanjang hari. Padahal, peran ayah tetap dibutuhkan dalam pengasuhan anak karena membawa atmosfer yang berbeda dalam pengasuhan.

Itu sebabnya sejumlah FTM diketahui justru jauh dari perasaan bahagia dan sejahtera. Khususnya ketika peranan sebagai FTM merupakan kondisi yang dipaksakan, bukan sebuah pilihan. Akibat  tuntutan suami dan keluarga atau karena memiliki anak dengan kondisi tertentu. BAhkan FTM rentan akan stres, terutama bila power seutuhnya ditentukan dan dipegang oleh suami, sebagai satu-satunya tokoh bread winner di rumah,seperti pengambilan keputusan, dan keuangan. Padahal perasaan bahagia dan sejahtera seorang ibu penting bagi pengasuhan anak yang optimal, terutama saat membangun kehangatan dan kedekatan.

Tak hanya pengasuhan anak yang turut terpengaruh ketika kondisi ibu tak bahagia, termasuk juga hubungan suami istri, mengingat sumber emosi di rumah berpusat pada ibu. FTM juga rentan akan perasaan "tak berharga" serta perasaan tak percaya diri lainnya. Kondisi ini berbanding terbalik dengan sejumlah working mom, yang umumnya jauh lebih kompeten dan memiliki perasaan 'berharga'. Mereka pun tergolong aman dan independent secara finansial. Namun tak perlu berkecil hati, jika FTM, memang menjadi pilihan karir anda. Tingkat kepuasan seorang ibu tidak hanya terletak pada peran sebagai FTM atau working mom, melainkan juga ditentukan oleh kondisi menjadi FTM  maupun working mom merupakan pilihan atau sebuah keterpaksaan?

Peranan suami penting artinya bagi kepuasan ibu, baik FTM maupun bekerja. Ibu-ibu akan jauh lebih sejahtera saat memeiliki pasangan yang bersedia berbagi peran dan memberi kontribusi yang adil dan seimbang di rumah.

3 Langkah FTM to the max!!
  • Pastikan menjadi FTM adalah pilihan anda. Jika anda tetap ingin bekerja, temukan celah yang memungkinkan anda untuk memulai karir dari rumah,
  • Me-Time, penting! Meskipun anda seorang istri dan ibu, anda tetap seorang individu yang independent. Pastikan anda memiliki waktu luang untuk diri sendiri, tanpa embel-embel membawa anak dan urusan rumah tangga.
  • Go social. Pertemanan tetap dibutuhkan agar anda memiliki kehidupan sosial ala wanita dewasa. Kehidupan sosial meningkatkan perasaan sejahtera.
More Article:

online Cars auctions
skateboard maintenance
paintball strategy
inflatable hot tubs

    TIPS MENGENDALIKAN KEMARAHAN BAGI SEORANG IBU


    Disadur dari Roslina Verauli, M.PSI (psikolog dari RS Pondok Indah)
    Pernahkah saat berhubungan dengan si kecil anda menampilkan perilaku berikut: berbicara padanya dengan makian, mengajarnya dengan kecaman, menatapnya dengan hujaman, menyentuhnya dengan cubitan atau tamparan. Hati-hati, anda sedang menampilkan kemarahan bukan menjalin hubungan bersama si kecil

    Menjadi ibu dituntut untuk selalu berkompromi dengan menahan diri sendiri dan si kecil yang tak selalu mampu memahami anda. Justru dia banyak belajar dari bagaimana anda bereaksi menampilkan emosi anda. Sayangnya, sebagian ibu, disadari atau tidak, kerap dengan mudah mengumbar kemarahan saat berhubungan dengan anaknya. Sebelum kemarahan menguasai anda, segera control dan pahami kemaharahan yang anda miliki.
    Tip Praktis
    Saat anda merasa begitu marah, lakukan tip berikut :
    ·         Terima kemarahan anda.  Saat anda marah, katakan kepada diri sendiri : “ Saya marah” atau katakana kepada anak anda “mama marah”. Ini membantu anda berpusat pada emosi dan diri dari dalam (inward), bukan pada orang lain atau anak sebagai obyek kemarahan(outward).
    ·         Pahami, APA dan bukan SIAPA yang membuat anda marah. Saat si kecil rewel, yang membuat anda marah adalah tindakannya bukan dirinya dan hanya berlangsung saat itu.
    ·         Ungkapkan keinginan anda. Katakan dengan tegas bukan dengan kemarahan. “Mama marah, kamu enggak mau makan. Ada apa sih Nak?’ Ungkapan seperti ini member kesempatan anak mengungkapkan perasaannya tanpa merasa dihakimi. Dan anda tak perlu meledak-ledak.
    ·         Segera benahi kondisi yang menjadi sumber kemarahan. Kompromi dengan anak. Jika ia menolak makan saat ini, tanyakan kapan dia ingin makan. Ketika dia siap, dia boleh memintanya kembali pada anda. Kemudian tinggalkan dia, setengah jam kemudian tanyakan kembali.
    ·         Bila masih ada energy kemarahan, segera tenangkan diri. Energi harus disalurkan. Lakukan relaksasi, ibadah, atau kegiatan menenangkan diri lainnya yang bersifat produktif seperti membereskan rumah, memasak, olahraga dan sejenisnya untuk menyalurkan sisa-sisa emosi in a good way.

    KONSULTASIKAN PADA AHLINYA
    Seringkali dijumpai ibu-ibu yang secara emosional rendah tentang toleransinya- atau bertegangan tinggi. Secara umum, sumbernya berasal dari kemarahan terhadap diri sendiri, seperti diri yang tak berkembang karirnya, kehilangan me-time dan hobi pribadi, hingga kesepian karena kehilangan pertemanan, atau kemarahan dari hubungan yang tak membahagiakan dengan pasangan. Benahi sumber kemarahan tadi dengan membicarakannya dengan pasangan. Bila anda mengalami kesulitan kunjungi psikolog keluarga atau psikolog terdekat.