Disadur dari Roslina Verauli, M.PSI (psikolog dari RS Pondok Indah)
“Pernahkah saat berhubungan dengan si kecil anda menampilkan perilaku berikut: berbicara padanya dengan makian, mengajarnya dengan kecaman, menatapnya dengan hujaman, menyentuhnya dengan cubitan atau tamparan. Hati-hati, anda sedang menampilkan kemarahan bukan menjalin hubungan bersama si kecil “
Menjadi ibu dituntut untuk selalu berkompromi dengan menahan diri sendiri dan si kecil yang tak selalu mampu memahami anda. Justru dia banyak belajar dari bagaimana anda bereaksi menampilkan emosi anda. Sayangnya, sebagian ibu, disadari atau tidak, kerap dengan mudah mengumbar kemarahan saat berhubungan dengan anaknya. Sebelum kemarahan menguasai anda, segera control dan pahami kemaharahan yang anda miliki.
Tip Praktis
Saat anda merasa begitu marah, lakukan tip berikut :
· Terima kemarahan anda. Saat anda marah, katakan kepada diri sendiri : “ Saya marah” atau katakana kepada anak anda “mama marah”. Ini membantu anda berpusat pada emosi dan diri dari dalam (inward), bukan pada orang lain atau anak sebagai obyek kemarahan(outward).
· Pahami, APA dan bukan SIAPA yang membuat anda marah. Saat si kecil rewel, yang membuat anda marah adalah tindakannya bukan dirinya dan hanya berlangsung saat itu.
· Ungkapkan keinginan anda. Katakan dengan tegas bukan dengan kemarahan. “Mama marah, kamu enggak mau makan. Ada apa sih Nak?’ Ungkapan seperti ini member kesempatan anak mengungkapkan perasaannya tanpa merasa dihakimi. Dan anda tak perlu meledak-ledak.
· Segera benahi kondisi yang menjadi sumber kemarahan. Kompromi dengan anak. Jika ia menolak makan saat ini, tanyakan kapan dia ingin makan. Ketika dia siap, dia boleh memintanya kembali pada anda. Kemudian tinggalkan dia, setengah jam kemudian tanyakan kembali.
· Bila masih ada energy kemarahan, segera tenangkan diri. Energi harus disalurkan. Lakukan relaksasi, ibadah, atau kegiatan menenangkan diri lainnya yang bersifat produktif seperti membereskan rumah, memasak, olahraga dan sejenisnya untuk menyalurkan sisa-sisa emosi in a good way.
KONSULTASIKAN PADA AHLINYA
Seringkali dijumpai ibu-ibu yang secara emosional rendah tentang toleransinya- atau bertegangan tinggi. Secara umum, sumbernya berasal dari kemarahan terhadap diri sendiri, seperti diri yang tak berkembang karirnya, kehilangan me-time dan hobi pribadi, hingga kesepian karena kehilangan pertemanan, atau kemarahan dari hubungan yang tak membahagiakan dengan pasangan. Benahi sumber kemarahan tadi dengan membicarakannya dengan pasangan. Bila anda mengalami kesulitan kunjungi psikolog keluarga atau psikolog terdekat.
.jpg)
No comments:
Post a Comment